Ubin dan Patung

Jam 1 dini hari, suasana ruangan musium itu sangat lengang.

Berbeda sekali dengan siang hari, ketika ribuan wisatawan, anak sekolah, pelancong datang mengunjungi ruangan musium itu.
Datang dari segala pelosok untuk melihat dari dekat untuk mengagumi mahakarya berupa patung marmer yang luar biasa indahnya.
Patung berbentuk manusia yang begitu halus buatannya, dengan detail yang sangat sempurna dan tampak begitu hidup.

Tiba-tiba keheningan pagi dipecahkan oleh suara keluhan; “Sungguh tidak adil, ini sungguh tidak adil !” terdengar ubin pualam bicara.

“Mengapa engkau berkata demikian, sahabatku ?” Tanya sang patung pualam.

“Kita berasal dari bukit yang sama, kita juga dibuat oleh pemahat yang sama, tetapi mengapa nasib kita jauh berbeda. Engkau disana tampak begitu indah, dikagumi dan dibicarakan banyak orang, sementara aku, harus menerima nasib sebagai ubin batu disini. Ini tidak adil !” ujar ubin pualam dengan emosi.

“Oh, itu rupanya”, kata sang patung. “Ingatkah engkau pada pemahat kita ?”

“Tentu saja, aku tak akan lupa pada pemahat sialan itu. Ia mengambilku dari tempat tinggalku, ia gunakan pahat dan palu padaku untuk membuatku menderita. Sungguh sakit, aku tak terima diperlakukan begitu. Aku melawan dan terus melawan, aku tak mau ia mengubahku sesukanya. Enak saja, sampai kapanpun aku tak mau mengikuti kehendaknya” tukas ubin marmer masih emosi.

“Sahabatku”, ujar sang patung marmer lembut, “Itulah yang membedakan kita. Ketika sang pemahat mulai menggunakan pahatnya padaku, aku yakin bahwa sang pemahat punya maksud baik untukku. Aku bertahan atas segala derita yang kualami, aku rela untuk menerima cukilan demi cukilan pahatnya, aku tidak meyerah dan bisa menerima segala proses yang dilakukannya padaku sehingga akhirnya aku menjadi seperti sekarang, sebuah mahakarya.”

“Sementara engkau, engkau terus menolak dan melawan, engkau bersikap
negatif terhadap perubahan. Engkau tidak mau mengerti maksud baik sang pemahat, engkau mudah menyerah dan patah atas tempaan, sehingga hal terbaik yang bisa dilakukan hanyalah menjadikanmu ubin”, ujar patung pualam kembali.

Mendengar ini, sang ubin pun terdiam.

Sang patung kemudian melanjutkan :
“Oleh karena itu, janganlah engkau bicara soal ketidak adilan. Janganlah engkau melihat seakan nasib baik hanya datang kepada yang lain tapi tidak kepadamu. Janganlah engkau menyalahkan sang pemahat.

Salahkan dirimu sendiri, kalau sekarang engkau diabaikan, tidak dianggap penting dan diinjak-injak orang”.

Hidup ini pilihan, ketika Tuhan “Sang Pemahat Agung” menempa dan memahatmu melalui pelbagai cara, bagaimana dirimu menyambutnya akan menentukan, apakah engkau menjadi suatu mahakarya atau hanya sepetak ubin…..

From : Tiang Doa

Wanita Ciptaan Tuhan

Ketika Aku menciptakan langit dan bumi. Aku berfirman dan jadilah.

Ketika Aku menciptakan pria, Aku membentuknya dan meniupkan nafas kehidupan ke lubang hidungnya.

Tetapi engkau, wanita, Aku menghiasmu setelah aku meniupkan nafas kehidupan ke pria karena lubang hidungmu terlalu lembut.

Aku membiarkan pria tertidur dengan nyenyak sehingga Aku dapat dengan sabar dan sempurna membentuk engkau. Aku membuat pria tertidur supaya dia tidak dapat mencampuri.

Dari satu tulang, Aku menghiasmu. Aku memilih tulang yang melindungi kehidupan pria. Aku memilih tulang rusuk, yang melindungi jantung dan paru-paru dan mendukungnya, sebagaimana begitui juga harus kamu lakukan. Dari satu tulang ini, Aku membentukmu dengan sempurna dan cantik.

Sifatmu adalah seperti tulang rusuk, kuat tetapi lembut dan mudah patah. Engkau menyediakan perlindungan untuk organ paling lembut dari pria, hati dan jantungnya. Jantungnya adalah pusat dari kehidupannya, paru-parunya menggenggam nafas kehidupan.

Tulang rusuk akan membiarkan dirinya patah sebelum ia mengijinkan kerusakan terjadi pada jantung. Dukunglah pria sebagaimana tulang rusuk melindungi tubuhnya.

Engkau tidak diambil dari kakinya untuk menjadi alasnya, tidak juga diambil dari kepalanya untuk menjadi atasannya.

Engkau diambil dari sisinya, untuk berdiri di sebelahnya dan dipeluk dengan erat. Engkau adalah malaikat-Ku yang sempurna.

Engkau adalah gadis kecilku yang cantik. Engkau telah tumbuh menjadi wanita yang sempurna, dan mata-Ku terpuaskan ketika aku melihat hatimu.

Matamu — jangan mengubahnya. Bibirmu sangat cantik ketika mengucapkan doa. Hidungmu sangat sempurna dalam bentuk. Tanganmu sangat lembut untuk disentuh. Aku telah memberi perhatian pada wajahmu saat engkau tertidur. Aku menggenggam hatimu dekat dengan-Ku. Dari semua yang hidup dan bernafas, engkau adalah yang
paling mirip dengan Aku.

Pria berjalan bersamaku di hari yang dingin dan dia kesepian. Dia tidak dapat melihat ataupun menyentuh-Ku. Dia hanya dapat merasakan-Ku. Jadi semua yang Aku ingin Pria berbagi denganku, aku membentuknya di dalam kamu.

Kekuatan-Ku, kemurnian-Ku, cinta-Ku, perlindungan-Ku dan dukungan-Ku. Engkau adalah istimewa karena engkau adalah perpanjangan tangan-Ku.

Jadi

Pria – perlakukan wanita dengan baik. Cintailah dia, hormatilah dia, karena ia lembut. Menyakitinya, berarti engkau menyakiti-Ku. Apa yang engkau lakukan kepadanya, engkau melakukan-nya kepada-Ku. Jika engkau menghancurkannya, engkau hanya menghancurkan hatimu sendiri, hati Bapa-mu….yang juga hati Bapa-nya.

Wanita, dukunglah pria. Dalam kesederhanaan, tunjukkan kepadanya kekuatan perasaan yang telah Kuberikan kepadamu. Dalam kesunyian, tunjukkan kekuatanmu. Dalam cinta, tunjukkan kepadanya bahwa engkau adalah tulang rusuknya yang melindungi tubuhnya.

Push Up

Ada seorang profesor mata kuliah Religi yang bernama Dr. Christianson yang mengajar di sebuah perguruan tinggi kecil di bagian barat Amerika Serikat. Dr. Christianson mengajar kekristenan di perguruan tinggi ini dan setiap siswa semester pertama diwajibkan untuk mengikuti kelas ini. Sekalipun Dr. Christianson berusaha keras menyampaikan intisari Injil kepada kelasnya, ia menemukan bahwa kebanyakan siswanya memandang materi yang diajarnya sebagai suatu kegiatan yang membosankan. Meskipun ia sudah berusaha sebaik mungkin, kebanyakan siswa menolak untuk menanggapi kekristenan secara serius. Tahun ini, Dr. Christianson mempunyai seorang siswa yang spesial yang bernama, Steve. Steve belajar dengan tujuan untuk melanjutkan studinya ke seminari dan mau masuk ke dalam pelayanan. Steve seorang yang populer, ia disukai banyak orang, dan seorang atlet yang memiliki fisik yang prima dan ia merupakan siswa terbaik di kelas profesor itu.

Suatu hari, Dr Christianson meminta Steve untuk tidak langsung pulang setelah kuliah karena ia mau berbicara kepadanya. “Berapa push up yang bisa kamu lakukan?” Steve menjawab, “Saya melakukan sekitar 200 setiap malam.” “200? Lumayan itu, Steve,” Dr. Christianson melanjutkan. “Apakah kamu dapat melakukan 300?” Steve menjawab, “Saya tidak tahu. Saya tidak pernah melakukan 300 sekaligus.” “Apakah kamu pikir kamu dapat melakukannya?” tanya Dr. Christianson. “Ok, saya bisa coba,” jawab Steve.

“Saya mempunyai satu proyek di kelas dan saya memerlukan kamu untuk melakukan 10 push up setiap kali, tapi sebanyak 30 kali, jadi totalnya 300. Dapatkah kamu melakukannya?” tanya sang profesor. Steve menjawab, “Baiklah, saya pikir saya bisa. Ok, saya akan melakukannya.” Dr. Christianson berkata, “Bagus sekali! Saya memerlukan Anda untuk melakukannya Jumat ini.” Dr. Christianson menjelaskan kepada Steve apa yang ia rencanakan untuk kelas mereka pada Jumat itu.

Saat kelas bermula, sang profesor mengeluarkan satu kotak besar donut. Bukan donut yang biasa tetapi yang besar dan yang punya krim di tengah-tengah. Setiap orang sangat bersemangat karena kelas itu merupakan kelas terakhir pada hari itu dan mereka bisa menikmati akhir pekan mereka setelah pesta di kelas Dr. Christianson.

Dr. Christianson pergi ke baris pertama dan bertanya, “Cynthia, apakah kamu mau salah satu dari donut ini?” Cynthia menjawab, “Ya”. Dr. Christianson lalu berpaling kepada Steve, “Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Cynthia bisa mendapatkan donut ini?” “Tentu saja!” Steve lalu melompat ke lantai dan dengan cepat melakukan 10 push up. Lalu Steve kembali ke tempat duduknya. Dr. Christianson meletakkan satu donut di meja Cynthia.

Dr. Christianson lalu pergi ke siswa berikutnya, dan bertanya, “Joe, apakah kamu mau satu donut?” Joe berkata, “Ya.” Dr. Christianson bertanya, “Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Joe bisa mendapatkan donutnya?”

Steve melakukan 10 push up, dan Joe mendapatkan donutnya. Begitulah selanjutnya, di baris yang pertama. Steve melakukan 10 push up untuk setiap orang sebelum mereka mendapatkan donut mereka. Di baris yang kedua, Dr. Christianson berhadapan dengan Scott. Scott seorang pemain basket, dan fisiknya sekuat Steve. Ia juga seorang yang sangat populer dan punya banyak teman wanita.

Saat profesor bertanya, “Scott, apakah kamu mau donut?” Jawaban Scott adalah, “Baiklah, bisakah saya melakukan push up saya sendiri?” Dr. Christianson berkata, “Tidak, Steve harus melakukannya.” Lalu Scott berkata, “Kalau begitu, saya tidak mau donutnya.” Dr. Christianson mengangkat bahunya dan berpaling kepada Steve dan meminta, “Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Scott bisa mendapatkan donut yang tidak ia kehendaki?” Dengan ketaatan yang sempurna Steven mulai melakukan 10 push up. Scott berteriak, “Hei! Saya sudah berkata, saya tidak menginginkannya!” Dr. Christianson berkata, “Lihat di sini! Ini kelas saya dan semuanya ini donut saya. Biarkan saja di atas meja jika kamu tidak menginginkannya.” Ia lalu menempatkan satu donut di atas meja Scott.

Di waktu ini, Steve sudah mulai melakukan push up dengan agak perlahan. Ia hanya duduk di lantai saja karena terlalu capek untuk kembali ke tempat duduknya. Ia mulai berkeringat. Dr. Christianson mulai di baris ketiga. Para siswa sudah mulai merasa marah. Dr. Christianson bertanya kepada Jenny, “Jenny, apakah kamu menginginkan donut ini?” Dengan tegas Jenny menjawab, “Tidak.” Lalu Dr. Christianson bertanya pada Steve, “Steve, maukah kamu melakukan 10 push up lagi agar Jenny bisa mendapatkan donut yang tidak ia mau?”

Steve melakukan 10 push up dan Jenny mendapatkan satu donut. Ruang sudah mulai dipenuhi oleh rasa tidak nyaman. Para siswa sudah mulai berkata, “Tidak!” dan semua donut dibiarkan di atas meja tanpa ada yang memakannya. Steve sudah kelelahan dan harus berusaha keras untuk tetap terus melakukan push up untuk setiap donut itu. Lantai tempat ia melakukan push up sudah dibasahi keringatnya dan lengannya sudah mulai kemerahan. Dr. Christianson bertanya kepada Robert, seorang ateis yang paling lantang suaranya kalau berdebat di kelas, apakah ia mau membantu untuk memastikan bahwa Steve tidak curang dan tetap melakukan 10 push up untuk setiap donut karena dia sendiri sudah tidak sanggup melihat Steve melakukan push up-nya.

Dr. Christianson sudah sampai ke baris ke-empat sekarang. Dan beberapa siswa dari kelas yang lain yang sudah bergabung di kelas itu dan mereka duduk di tangga. Saat profesor menghitung kembali, ternyata ada 34 siswa sekarang di kelas. Ia mulai khawatir apakah Steve dapat melakukannya. Dr. Christianson melanjutkan dari satu siswa ke siswa yang selanjutnya sampai ke akhir baris itu. Dan Steve sudah mulai bergumul. Ia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan push up-nya. Steve bertanya kepada Dr. Christianson, “Apakah hidung saya harus menyentuh lantai untuk setiap push up yang saya lakukan?” Dr. Christianson berpikir sejenak dan berkata, “Semuanya ini push up kamu. Kamu yang pegang kendali. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau.” Dan Dr. Christianson melanjutkan ke siswa yang selanjutnya.

Tangan Steve sudah mulai gemetaran dan ia harus bergumul untuk mengangkat dirinya melawan tarikan gravitasi. Di waktu ini, keringatnya bercucuran, dan tidak kedengaran apa-apa kecuali bunyi nafasnya yang kencang. Mata setiap orang di kelas itu mulai basah. Dua siswa terakhir adalah dua siswa perempuan yang sangat populer, Linda dan Susan.

Dr. Christianson pergi ke Linda, “Linda, apakah kamu mau donut?” Linda dengan sedih berkata, “Tidak, terima kasih.” Profesor Christianson dengan perlahan bertanya, “Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Linda bisa mendapatkan donut yang tidak ia mau?” Dengan pergumulan yang berat, Steve dengan perlahan melakukan push-up untuk Linda. Lalu Dr Christianson berpaling kepada siswa yang terakhir, Susan. “Susan, kamu mau donut ini?” Susan dengan air mata yang berlinangan di pipinya mulai menangis. “Dr. Christianson, mengapa saya tidak boleh membantunya?”

Dr. Christianson, dengan mata yang berkaca-kaca berkata, “Tidak, Steve harus melakukannya sendiri, saya telah memberinya tugas itu dan ia bertanggungjawab untuk memastikan setiap orang mempunyai kesempatan untuk mendapat donut itu, tidak kira apakah mereka menginginkannya atau tidak. Hanya Steve seorang saja yang mempunyai nilai yang sempurna. Setiap orang telah gagal dalam ujian mereka, mereka entah bolos kelas atau memberikan saya tugas yang di bawah standar. Steve memberitahu saya di latihan football, saat seorang pemain buat salah, ia harus buat push up. Saya memberitahu Steve bahwa tidak seorang pun dari kalian yang boleh datang ke pesta saya kecuali jika Steve mau membayar harga dengan melakukan push up bagi kalian. Steve dan saya telah membuat perjanjian demi kalian semua.”

“Steve, maukah kamu membuat 10 push up supaya Susan bisa mendapatkan donut?” Steve dengan sangat perlahan melakukan 10 push up yang terakhirnya. Ia tahu ia sudah menyelesaikan semua yang harus dia lakukan. Secara total, Steve telah melakukan 350 push up, tangannya tidak tahan lagi dan ia jatuh tersungkur ke lantai. Dr. Christianson lalu berpaling ke kelas dan berkata, “Dan, demikianlah, Juruselamat kita, Yesus Kristus, di atas kayu salib, ia telah melakukan semua yang dibutuhkan olehnya. Ia menyerahkan semuanya. Dan seperti mereka yang ada di ruangan ini, banyak di antara kita yang membiarkan hadiah itu begitu saja di atas meja, sama sekali tidak kita jamah.”

Dua siswa mengangkat Steve dari lantai untuk duduk di kursi, walaupun sangat lelah secara fisik, Steve tersenyum bahagia. “Engkau sudah berbuat dengan baik, hambaku yang baik dan setia,” kata profesor dan ia menambahkan, “Tidak semua khotbah disampaikan dengan kata-kata.” Berpaling kepada kelas, profesor berkata, “Harapan saya adalah kalian dapat memahami dan sepenuhnya mengerti akan semua kekayaan kasih karunia dan rahmat yang telah diberikan kepada kalian lewat pengorbanan Yesus Kristus. Allah tidak menyayangkan putra satu-satunya, tetapi menyerahkan dia untuk kita semua. Apakah kita memilih untuk menerima menolak karunia-Nya, harganya sudah lunas dibayar.”

Banyak orang menilai bahwa apa yang uda dilakukan Steve adalah hal yang sangat bodoh..
COBA PIKIRKAN LAGI!!!
Siapa lebih bodoh?
Mereka yang ga mau menerima donut tersebut dari hasil jerih payah Steve dengan cuma-cuma?
atau Steve yang kelelahan karna melakukan push-up demi teman-temannya?

“Apakah kita akan menjadi orang yang bodoh dan yang tidak bersyukur
dengan meninggalkan hadiah itu di atas meja?”

Edited from : Tiang Doa

Change Our Thought

An old man was sitting with his 25 year old son in the train. The train was about to leave the station.
All passengers are settling down in their seats.
As the train started, the  young man was filled with lots of joy and curiosity. He was sitting on the window side.He put out one hand and feeling the passing air, he  shouted, “Papa see all the trees are going behind”.
The old man smiled and admired his sons’ feelings.
Besides the young man was one couple, sitting and listening to all the conversation between father and son.
They were little awkward with the attitude of the 25 year old behaving like a small child.
Suddenly the young man again shouted, “Papa see the pond and animals. Clouds are moving with the train”.
The couple was watching the young man embarrassingly.
Now it started raining and some of the  water drops touched the  young man’s hand.He was filled with joy and he closed his eyes.
He shouted again,” Papa it’s raining, the water is touching me, see papa”.
The couple couldn’t help themselves and asked the old man.
“Why don’t you visit the Doctor and get treatment for your son.”
The old man said, ” Yes, We are coming from the hospital today, my son got his eye sight for first time in his life”.

Never look down on anybody

Unless you are helping them up

From : Email

Naik ke Puncak

Seperti biasa kemarin ada doa bersama dengan Princess of God..
Diawali dengan sharing, mulai saling menumpahkan apa yang mungkin selama ini cuma disimpan sendiri..
Gimana hambatan mereka sebagai seorang pemimpin baru yang sedang belajar untuk bertanggung jawab sama tugas yang dipercayakan ke mereka.. Setelah itu berdoa, gw dapet satu ilustrasi lagi yang gw bagiin ke mereka menjawab permasalahan yang ada sama mereka..

Gw yakin kita semua pasti pernah pergi ke puncak or ke dataran tinggi yang bisa melihat pemandangan di dataran rendah.. Sebenarnya dengan semua hal yang uda tersedia, dengan segala fasilitas yang ada, dengan segala kemewahan, dan dengan-dengan yang lainnya di Jakarta.. Bisa di bilang semua bisa aja didapatkan, semua sudah tercukupi..

Tetapi kalau kita perhatikan jika musim liburan tiba, masih saja banyak orang mau bermacet ria pergi ke Puncak.. Dengan menempuh jarak yang cukup jauh, tetapi juga dijamin dengan waktu yang sangat lama karena kepadatan kendaraan yang ada.. Seharusnya orang sudah bosan dan enggan untuk kembali ke sana jika harus selalu terjebak dalam kemacetan setiap kali pergi.. Namun tidak pernah orang bosan untuk pergi ke sana, karena sebenarnya banyak hal yang mereka ga bisa lihat ketika mereka berada di jakarta..

Ada sebuah analogi yang gw dapatkan dari kehidupan yang sangat dekat dengan kita itu, yang gw kaitkan dari curhatan anak-anak kemarin.. Mereka mengeluhkan kenapa sih banyak anak-anak yang susah banged diajak komsel, diajak greja, diajak hidup bener, dll..
Gw bilang sama mereka, kalo hidup orang-orang yang kaya gitu sama seperti orang-orang yang hidupnya di dataran rendah.. Mereka sudah cukup nyaman dengan hidup yang ada sama mereka saat ini.. Mereka berpikir kalo mereka ga butuh apa-apa lagi.. Karena apa yang ada di depan mereka sudah bisa memuaskan hidup mereka..

Ketika mereka diajak untuk pergi naik ke tempat yang lebih tinggi, mungkin mereka akan enggan.. Tempat yang lebih tinggi bicara soal kualitas hidup kita di mata Tuhan.. Semakin kita berada di tempat tinggi, semakin kita dekat kepada Allah kita.. Mereka enggan untuk komsel, untuk pergi gereja, untuk mengikuti kegiatan-kegiatan rohani, untuk berdoa, untuk saat teduh, dll.. Mereka pikir tanpa itu semua, dunia tetap bisa memberikan apa yang mereka butuhkan..
Walaupun statement itu ngga 100% salah, tapi sebenarnya ada sesuatu yang mereka butuhkan cuma ga mereka sadari..
Sama hal nya seperti orang-orang yang ga bosan pergi ke Puncak, kenapa?
Karena banyak hal yang ga bisa mereka lihat bahkan mereka dapatkan kalau mereka tetap di bawah..
Kita sebagai orang-orang yang berada di tengah-tengah menuju perjalanan ke Puncak, sudah melihat beberapa hal tersebut.. Makanya sudah jadi tugas kita buat beritahu mereka bahwa ada hal-hal lain yang ga bisa mereka dapatkan dengan hidup biasa-biasa aja tanpa mau lebih lagi di dalam Tuhan..
Walaupun selama perjalanan menuju puncak, sering kali kita melihat jurang atau pemandangan yang kita lihat belum terlalu indah.. Yang membuat kita malas, ragu, kecewa untuk mengajak teman-teman kita ikut naik ke puncak.. Tapi percayalah ketika kita sudah sampai di puncak, ada lebih banyak hal lagi yang bisa kita dapatkan..

Pemandangan yang sangat menakjubkan hanya bisa kita lihat ketika kita sudah sampai di puncak gunung, sesuatu yang ga akan bisa kita dapatkan di dataran yang lebih rendah..
Hal ini bicara soal berkat Tuhan yang luar biasa.. Walaupun butuh usaha untuk sampai di puncak tapi Tuhan uda siapkan sesuatu yang ‘wah’ di atas sana hanya untuk orang-orang yang mau berusaha untuk datang mendekat sama DIA.. Apakah kamu orangnya?