Tuhan, aku pengen punya pacar


“Kenapa?” tanya Tuhan tiba-tiba.
Aku yang lagi bengong tiba-tiba sadar. “Apa?” tanyaku.
“Kenapa kamu pengen punya pacar?” Tuhan bertanya lagi. Kali ini lebih lengkap.
“Kok?” aku yang sejak tadi cuma bengong tanpa ngomong apa-apa agak kaget juga waktu Tuhan nanya langsung gak pake basa basi lagi. Yah, seperti biasanya, aku juga udah tau sih kalo Tuhan tau pikiranku.
“Hueee… Tuhan langsung nembak gitu nanyanya, aku kan jadi malu.” Kataku ngeles.
Tuhan cuma senyum kecil.
“Iya, iya, kenapa ya?” aku mencari-cari alasan yang mungkin akan membuat Tuhan mengabulkan teriakan hatiku yang barusan kedengeran sama Tuhan.
“Karena…” aku mulai dengan nada sedatar-datarnya.
“Karena, Tuhan bilang gak baik kalo manusia sendirian, butuh penolong. Iya kan? Untuk bermultiplikasi. Hehehe…” Ga yakin dengan jawabanku, aku menundukkan kepala, menyembunyikan senyumku, menggigit bibirku.
“Nyari jawaban yang alkitabiah ya?” Tuhan sok nebak-nebak.
Mukaku memerah. Aku tau Tuhan juga uda tau kenapa aku teriak pengen punya pacar di dalem hati. Aku pengen ada yang sayang-sayang, ada yang perhatiin, biar ga kesepian, dan ada yang cariin terus. Hehe… bukannya begitu ya keinginan setiap cewek single yang lagi menanti pacar?
“Ngiri ya?” Tuhan nembak lagi.
“…” aku ga jawab. Memang alesanku ini sangat logis dan wajar kalo aku ngiri liat orang lain pada punya pacar. Temen-temenku selalu ada yang jemput kalo pulang dari mana-mana, selalu ada yang telpon kalo belom pulang ato belom makan (aduh, please deh…), terus, terus, ada yang bisa diajak pergi berdua aja biar romantis, terus, aduh, banyak deh…
“Kata temenku, ga ada salahnya nyoba dulu, Tuhan. Lagian kan aku juga ga main-main kok… Aku kan ga suka hubungan yang main-main. God juga tau, kan?”
“Aku tau. Aku tau kamu, bahkan yang kamu ga tau tentang diri kamu.”
“God mau bilang kalo punya pacar itu harus dewasa dulu kan? Bukankah aku uda cukup dewasa, God?”
“Cia-Cia, kamu ingat? Waktu kamu jatuh cinta dulu, dari yang pertama kali, sampe yang terakhir kalinya beberapa bulan lalu.”
“Kyaaa… Tuhan apaaaal! :P”
“Kamu pasti inget kan? Waktu itu berkali-kali kamu terlalu mabuk sampe lupa sama Aku. Bahkan kamu menomorsatukan orang yang kamu cintai itu ngelebihin Aku. Kamu sendiri tau kamu udah terhanyut sama orang-orang yang pernah kamu suka, bukan lagi terhanyut sama cintaKu.”
“Tapi, God, perasaan cinta kan God yang kasih. Bukan aku yang mau sendiri kan?”
“Kamu tau, kenapa banyak perkawinan yang hancur?”
“Karena uda ga cocok lagi? Karena mereka ga mencintai lagi?”
“Karena mereka ga punya dasar cinta yang kuat. Makanya setelah beberapa lama perkawinan mereka ga kuat lagi. Jadinya rusak.”
“Dasar yang kuat? Apa itu, Tuhan?”
“CintaKu. Mereka yang mau mencintai pasangannya seperti dirinya sendiri harus punya hati yang penuh dengan cintaKu. Itu dasarnya.”
“Hmm… Orang ga bisa memberi apa yang dia ga punya.”
“Apa kamu udah penuh dengan cintaKu?”
“Aku…”
“Udah berapa kali kamu memenuhi hatimu dengan cinta manusia yang ga kekal dan mengesampingkan cintaKu yang kekal?”
“Sering, Tuhan.”
“Apa kamu udah bisa meletakkan Aku di atas segala perasaan hatimu? Termasuk perasaan cintamu sama pacarmu?”
“Belom, God. Belom…”
“Kenapa kamu mau punya pacar?”
“Nafsu? Daging? Keinginan hati?”
Tuhan tersenyum hangat. TanganNya mengambil kedua tanganku.
“Cia-Cia,” kata Tuhan.
“Aku udah berjanji untuk menjaga hatimu. Seperti yang kamu selalu minta. Dan aku menepatinya. Apa sekarang kamu mau Aku melanggar janjiKu sendiri?”
“Of course not, God… I want You to keep my heart so that it won’t be broken and fall in the wrong guy again.”
“You’ve said it, Cia-Cia. I’ve heard it. Now, can you let me keep My promise to you?”
“Yes God. Sekarang waktunya aku siapin hatiku untuk Tuhan bentuk. Pada waktunya nanti, hatiku telah siap dan bentuknya jadi bagus lagi, baru aku bisa kasih ke orang itu, yang nantinya akan jadi suamiku. Iya kan, Tuhan?”
“Yup!”
“Seperti yang God bilang, God ga mau hatiku rusak lagi. God ga mau hatiku terbang lalu jatuh di tempat yang salah. Sementara aku mempersiapkan hatiku, mempersiapkan diriku, God yang jaga hatiku, sampai nanti aku siap.”
“Kamu mau menunggu sampai hatimu matang?”
“Ya, Tuhan. Aku tau God akan penuhi janji God. I will be a lady before I meet my prince.”

Dari : email seorang teman 🙂

Advertisements

11 thoughts on “Tuhan, aku pengen punya pacar

  1. cc.
    mau tanya dong..
    knapa namanya cia-cia?
    sxn aj chacha
    PAS BANGED cdw
    aq jg gy mikirin gituan
    *jto lagi*
    tp makasi ya c
    i know the answer
    ^^

  2. @mickey’s freak :p
    jangan bongkar2 dunk, ntr ktauan dunk gerbang pendaftarannya uda mau dibuka..hahaha
    sebenernya si uda cukup siap, cuma masi mau berduaan aja dulu menghabiskan hidup sama BABE di Sorga 🙂

  3. Hello!

    Thanks udah nge-repost postingan Viona di sini, dear…
    But it is better to put the credit on where you’ve taken this post. Please put my name or site on this post because it would be very disregardful to copy and paste without putting the source.

    Thanks so much! I feel really appreciated. 😀

  4. @vio :
    hello juga vio..

    waduh thanx banged buat sarannya..
    biasanya aq emang selalu tulis koq sumbernya darimana, tapi kemarin sepertinya ketinggalan..
    ehm.. tapi ini aq dapet dari email seorang teman 😀
    aq taq tahu deh kalo dia repost darimana..
    but thank you so much yaw buat postinganmu, banyak memberkati lho..

  5. Hehehe…
    Ternyata postinganku nyebar di email-email toh…
    Nama panggilan gw Cia-Cia kalo di rumah… Hahahaha…
    Makasih lo udah di repost, jadi enag… 😛

    Oh, and glad that it bless many people, it bless me too, setiap kali inget pengen punya pacar, gw pasti inget postingan gw sendiri. Gw kan gak bisa makan omongan sendiri. Hahahahhaa! Jadi malu…

    Maen ke blog Viona juga yaaaa… 😀

  6. iya cia..
    ngga nyangka juga ternyata itu postingan u 😀
    gw dah ngeh si kenapa di ceritanya ditulis “cia-cia”
    nanti gw add blog u di blogroll gw de..
    gw pasti berkunjung koq k t4 u 😉
    thx yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s